Selasa, 24 Mei 2016

laporan praktikum PBA - Pengetahuan Bahan Kelompok buah

ACARA I 
PENGETAHUAN BAHAN KELOMPOK BUAH



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Buah adalah pertumbuhan sempurna dari bakal buah (ovarium). Setiap bakal buah berisi satu atau lebih bakal biji (ovulum), yang masing-masing mengandung sel telur. Bakal biji itu dibuahi melalui suatu proses yang diawali oleh peristiwa penyerbukan, yakni berpin dahnya serbuk sari dari kepala sari ke kepala putik. Setelah serbuk sari melekat di kepala putik, serbuk sari berkecambah dan isinya tumbuh menjadi buluh serbuk sari yang berisi sperma. Buluh ini terus tumbuh menembus tangkai putik menuju bakal biji, di mana terjadi persatuan antara sperma yang berasal dari serbuk sari dengan sel telur yang berdiam dalam bakal biji, membentuk zigot yang bersifat diploid ( Praptiningsih, 1999 ).
Buah adalah bagian tanaman hasil perkawinan putik dan benangsari. Pada umumnya bagian tanaman ini merupakan tempat biji. Dalam pengertian sehari-hari, buah diartikas sebagai semua produk yang dikonsumsi sebagai “pencuci mulut” (desserts), misalnya mangga, pepaya, pisang, dan sebagainya. Sayuran dan buah-buahan mempunyai sifat fisik yang berbeda. Perbedaan tingkat kematangan juga menyebabkan perbedaan sifat fisik. Sifat fisik buah dan sayur yang sering diamati meliputi parameter antara lain : warna,aroma, rasa, bentuk, ukuran, dan kekerasan, umumnya diamati secara subyektif.Komposisi setiap macam sayuran dan buah-buahan berbeda. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu perbedaan varietas, keadaan cuaca tempat tumbuh, pemeliharaan tanaman, dan kondisi penyimpanan. Sayuran dan buah-buahan mempunyai kadar air yang tinggi yaitu sekitar 75-95%, umumnya rendah dalam rendah kadar protein dan lemak  ( Syamsir, 2007 ).

1.2  Tujuan Praktikum
·         Mahasiswa dapat melakukan pengamatan sifat fisik berbagai buah dan sayuran
·         Mahasiswa dapat melakukan cara pengamatan sifat kimia kelompok buah dan sayuran
·         Mahasiswa dapat melakukan pengamatan fisiologis buah dan sayuran
·         Mahasiswa dapat mengkaitkan hubungan antar sifat fisik yang satu dengan sifat fisik yang lain serta dengan sifat kimia, fisiologis, organoleptik bahan pada perbedaan tingkat kematangan dan perbedaan bagian tanaman.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Buah adalah pertumbuhan sempurna dari bakal buah (ovarium). Setiap bakal buah berisi satu atau lebih bakal biji (ovulum), yang masing-masing mengandung sel telur. Bakal biji itu dibuahi melalui suatu proses yang diawali oleh peristiwa penyerbukan, yakni berpin dahnya serbuk sari dari kepala sari ke kepala putik. Setelah serbuk sari melekat di kepala putik, serbuk sari berkecambah dan isinya tumbuh menjadi buluh serbuk sari yang berisi sperma. Buluh ini terus tumbuh menembus tangkai putik menuju bakal biji, di mana terjadi persatuan antara sperma yang berasal dari serbuk sari dengan sel telur yang berdiam dalam bakal biji, membentuk zigot yang bersifat diploid. Pembuahan pada tumbuhan berbun ga ini melibatkan baik plasmogami, yakni persatuan protoplasma sel telur dan sperma, dan karioga mi, yakni persatuan inti sel keduanya. Setelah itu, zigot yang terbentuk mulai bertumbuh menjadi embrio (lembaga), bakal biji tumbuh menjadi biji, dan dinding bakal buah, yang disebut perikarp, tumbuh menjadi berdaging (pada buah batu atau drupa) atau membentuk lapisan pelindung yang kering dan keras (pada buah geluk atau nux). Sementara itu, kelopak bunga (sepal), mahkota (petal), benangsari (stamen) dan putik (pistil) akan gugur atau bisa jadi bertahan sebagian hingga buah menjadi. Pembentukan buah ini terus berlang sung hingga biji menjadi masak. Pada sebagian buah berbiji banyak, pertumbuhan daging buahnya umumnya sebanding dengan jumlah bakal biji yang terbuahi. Buah-buah itu sedemikian bera gam, sehingga sukarlah rasanya untuk menyusun suatu skema pengelompo kan yang dapat mencakup semua macam buah yang telah dikenal orang. Belum lagi adanya kekeliruan-kekeliruan yang mempertukarkan pengertian biji dan buah misal:biji jagung, yang sesung guhnya adalah buah secara botani ( Muchtadi, 2004 ).
Buah adalah organ pada tumbuhan berbunga  yang merupakan perkembangan lanjutan dari bakal buah (ovarium). Buah biasanya membungkus dan melindungi biji. Aneka rupa dan bentuk buah tidak terlepas kaitannya dengan fungsi utama buah, yakni sebagai pemencar biji tumbuhan. Pengertian buah dalam lingkup  pertanian (hortikultura) atau pangan adalah lebih luas daripada pengertian buah di atas dan biasanya disebut sebagai buah-buahan. Buah dalam pengertian ini tidak terbatas yang terbentuk dari bakal buah, melainkan dapat pula berasal dari perkembangan organ yang lain. Karena itu, untuk membedakannya, buah yang sesuai menurut pengerti an botani biasa disebut buah sejati. Buah seringkali memiliki nilai ekonomi sebagai bahan pangan maupun bahan baku industri karena di dalamnya disimpan berbagai macam produk  metabolisme tumbuhan, mulaidari  karbohidrat,  protein,  lemak, vitaminmineralalkaloid, hingga terpena dan terpenoid. Dalam pandangan botani, buah adalah sebagaimana tercantum pada paragraf pertama di atas. Pada ban yak spesies tumbuhan, yang disebut buah mencakup bakal buah yang telah berkembang lanjut beserta dengan jaringan yang mengelilinginya. Bagi tumbuhan berbunga, buah adalah alat untuk menyebar luaskan biji-bijinya; adanya biji di dalam dapat mengindikasikan bahwa organ tersebut adalah buah, meski ada pula biji yang tidak berasal dari buah. Dalam batasan tersebut, variasi buah bisa sangat besar, mencakup buah mangga, buah apel, buah tomatcabai, dan lain-lain. Namun juga bulir (kariop sis) padi, 'biji' (juga merupakan bulir!) jagung, atau polong kacang tanah. Sementara, dengan batasan ini, buah jambu monyet atau buah nangka tidak termasuk sebagai buah sejat. Dapat dijumpai, buah sejati (dalam pengertian botani) yang digolongkan sebagai sayur-sayuran, seperti buah tomat, buah cabai, polong kacang panjang, dan buahketimun. Namun demikian, dapat dijumpai pula, buah tidak sejati (buah semu) yang digolongkan sebagai buah-buahan, seperti buah jambu monyet (yang sebetulnya merupakan pembesaran dasar bunga; buah yang sejati adalah bagian ujung yang berbentuk buah nangka (yakni pembesaran tongkol bunga; buah yang sejati adalah isi buah nangka yang berwarna putih bergetah, sedangkan bagian 'daging buah' yang dimakan orang adalah tenda bunga), atau buah nanas ( Philip, 2004 ).
Buah adalah bagian tanaman hasil perkawinan putik dan benangsari. Pada umumnya bagian tanaman ini merupakan tempat biji. Dalam pengertian sehari-hari, buah diartikas sebagai semua produk yang dikonsumsi sebagai “pencuci mulut” (desserts), misalnya mangga, pepaya, pisang, dan sebagainya. Sayuran dan buah-buahan mempunyai sifat fisik yang berbeda. Perbedaan tingkat kematangan juga menyebabkan perbedaan sifat fisik. Sifat fisik buah dan sayur yang sering diamati meliputi parameter antara lain : warna,aroma, rasa, bentuk, ukuran, dan kekerasan, umumnya diamati secara subyektif.Komposisi setiap macam sayuran dan buah-buahan berbeda. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu perbedaan varietas, keadaan cuaca tempat tumbuh, pemeliharaan tanaman, dan kondisi penyimpanan. Sayuran dan buah-buahan mempunyai kadar air yang tinggi yaitu sekitar 75-95%, umumnya rendah dalam rendah kadar protein dan lemak. Sayuran dikonsumsi dengan cara yang sangat bermacam-macam, baik sebagai bagian dari menu utama maupun sebagai makanan sampingan. Kandungan nutrisi antara sayuran yang satu dan sayuran yang lain pun berbeda-beda, meski umumnya sayuran mengandung sedikit protein atau lemak, dengan jumlah vitamin, provitamin, mineral, fiber dan karbohidrat yang bermacam-macam. Beberapa jenis sayuran bahkan telah diklaim mengandung zat antioksidan, antibakteri, antijamur, maupun zat anti racun. Walaupun berkadar air tinggi, buah-buahan tidak dianggap sayur-sayuran karena biasanya dikonsumsi karena rasanya yang manis dan tidak cocok untuk disayur. Beberapa sayuran dapat pula menjadi bagian dari sumber pengobatanbumbu masak, atau rempah-rempah ( Kristian, 2003 ).
Buah yang dipetik sebelum masak, perkembangannya belum penuh. Buah seperti ini tidak mampu mengembangkan rasa manis atau lezatnya dan aromanya dengan penuh. Oleh karena itu, petani yang baik akan memetik buah-buahannya pada waktu yang paling tepat dan baik untuk dimakan. Meskipun buah sama-sama berasal dari satu pohon, waktu masaknya berbeda-beda. Petani yang baik hanya akan memetik buah yang sudah masak di pohon dan membiarkan yang masih belum cukup umur. Masaknya buah disebabkan oleh terjadinya perubahan kimiawi yang sangat kompleks. Selama proses, warna, rasa, tekstur, dan aroma buah mengalami peruba han. Pisang misalnya, mula-mula kuning keemasan, lambat-laun berubah kecoklatan, kemudian layu, melunak, terlalu masak dan akhirnya busuk. Buah yang masih muda berwarna hijau karena mengandung klorofil. Pada waktu buah menjadi tua, klorofil berubah menjadi pigmen alam iah yang berwarna kuning, merah, atau lainnya sesuai dengan jenis buah. Warna merupakan petunjuk tingkat kemasakan buah. Warna hijau menan dakan buah yang masih muda, kecuali apel hijau, melon, anggur, gosberi, sejenis mangga, plum hijau, dan pisang. Warna yang menyala kekuning-kuningan, merah muda, atau merah tua meruapakn tanda bahwa kualitas buah bagus. Hampir semua orang pernah mengalami kesukaran memperoleh buah-buahan terbaik. Sering terjadi buah-buahan yang dipasarkan telah mengalami kerusakan selama pemrosesan atau selama perjalanan mulai dari kerusakan kecil, memar, atau bahkan hancur sama sekali. Yang terpenting adalah bagaimana memeilih buah-buahan serta mengerti cara merawat dan menyimpan agar buah dapat disajikan dalam kondisi terbaik. Suatu jenis buah yang disebut unggul karena biasanya memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a.   Produktivitas buah per pohon dalam suatu musim panen melebihi produktivitas  tanaman buah lain yang sejenis
b.     Dibandingkan dengan jenis lainnya, tanaman sudah mampu berproduksi walaupun  umurnya relatif lebih muda.
c.   Tanaman harus tahan hama penyakit,karena tanaman yang tumbuh sehat dan normal akan mengahasilkan buah yang sehat dengan penampilan yang              menarik 
d.   Kelezatan aroma buah di atas rata-rata varietas lainnya.
e.   Bentuk,ukuran,dan warna buah seragam sehingga berpotensi ekspor
      ( Syarief R, 1986 ).
Karakteristik fisik hasil pertanian akan mempengaruhi bentuk dan ukuran berat atau volume.Konsumen tertentu memiliki penerimaan (aseptabilitas) tertentu mempertimbangkan karakteristik fisik. Bentuk dan ukuran berat dan warna yang seragam menjadi pilihan konsumen. Untuk mencegah kerusakan seminimal mungkin, diperlukan pengetahuan tentang karakteristik watak atau sifat teknik bahan hasil pertanian yang berkaitan dengan karakteristik fisik, mekanik dan termis ( Buckle, 1987 ).
Sayuran dan buah-buahan sebagai tanaman hortikultura memiliki umur kurang dari satu tahun dan merupakan tanaman musiman yang mempunyai arti penting dalam menambah variasi pada makanan, disamping kontribusi sebagai mineral (B1, Ca dan Fe) dan vitamin (A dan C). Warnanya ditentukan oleh kandungan zat warna yang disebut khlorofil, karotenoid dan flavonoid. Warna tersebut dapat dijadikan indikasi kesegaran dalam konsumsi (Winarno, 2004).
Kedua bahan pangan tersebut memiliki beberapa sifat yang sama, yaitu mudah rusak karena mempunyai tekstur lunak, kadar air (KA) tinggi, adanya komponen zat-zat dan enzim yang masih aktif. Hal tersebut di indikasikan oleh adanya perubahan-perubahan fisiologis secara spontan yang disertai perubahan fisik, kimia dan mikrobiologi maka dari itu, perlu diketahui cara-cara penanganan untuk mempertahankan mutunya melalui proses pengolahan lebih lanjut ( Fitriani, 2011 ).



BAB III
METODOLOGI

3.1  Alat dan Bahan
Alat :                                                                     Bahan :
-          Penggaris                                                               - Pisang Masak
-          Jangka Sorong                                                       - Pepaya Masak
-          Penetrometer                                                         - Pepaya Mentah
-          Buku Warna                                                          - Touge
-          Gelas Ukur                                                            - Wortel
-          Pisau                                                                      - Tomat Masak
-          Stopwatch                                                             - Tomat Mentah

3.2  Prosedur Kerja
1.      Bentuk
·         Menggunakan indra penglihatan untuk melihatnbentuk bahan, serta membandingkan bentuk acuan yang tersedia.
·         Memfoto bentuk bahan utuh dari yang tersedia
·         Membandingkan bahan yang diamati dengan literatur
2.      Ukuran
·         Mengukur panjang, lebar, dan tinggi/ tebal masing-masing bahan dengan menggunakan penggaris, jangka sorong dan mikrometer sekrup.
·         Mengulanginya sebanyak tiga kali
3.      Berat
·         Menimbang berat masing-masing bahan yang telah disediakan dengan timbangan biasa dan timbangan analitik
·         Mencatat berat masing-masing bahan
4.      Berat Jenis
·         Menimbang berat masing-masing bahan yang telah disediakan dengan timbangan analitik
·         Mencatat berat masing-masing bahan
·         Mengisi gelas ukur dengan air sebanyak setengah dari ukuran gelas ukur. Kemudian memasukkan bahan kedalam gelas ukur. Volume bahan adalah selisih antara volume air pada saat sebelum dan sesudah bahan dimasukkan
·         Berat jenis bahan dinyatakan dalam gram per mililiter bahan ( BJ = Berat bahan/volume bahan.
5.      Tekstur
·         Melakukan pengamatan subjektif terhadap kekerasan bahan dengan memijit bahan menggunakan jari tangan.
·         Pengamatan secara objektif dilakukan dengan menggunakan penetrometer. Dilakukan sebanyak tiga kali, kemudian tekan tuas pada alat. Kekerasan bahan dinyatakan dalam satuan milimeter/10 detik, dengan beban tertentu dalam satuan gram
6.      Struktur
·         Melakukan pengirisan secara melintang dan membujur
·         Foto hasil pengirisan melintang dan membujur dan menyebutkan bagian-bagian struktur bahan.
7.      Keasaman (pH)
·         Menimbang bahan sebanyak 100 gr, lalu melumatkannya
·         Mengukur pH bahan menggunakan pH meter
·         Mengamati sebanyak 3 kali, hitung rata-ratanya dan catat
8.      Kadar Air
·         Menghaluskan bahan dengan menggunakan alat penggerus. Kemudian mengambil sampel yang telah dihaluskan.
·         Menimbang wadah (dari aluminium foil) untuk tempat sampel bahan yang telah dihaluskan
·         Timbang bahan beserta wadah. Berat awal = (berat bahan + wadah) – Berat wadah
·         Memasukkan bahan kedalam oven dengan suhu 100˚C selama 24 jam atau hingga mencapai berat yang konstan
·         Menghitung kadar air pada bahan dengan rumus :
Kadar Air ( BB ) =  x 100%

9.      Sifat Organoleptik
·         Warna           : Melakukan pengamatan dengan indra penglihatan
·         Aroma           : melakukannya dengan indra pembau
·         Rasa             : melakukan dengan indra pengecap
·         Mencatat semua hasil pengamatan dan pencicipan yang termasuk juga adannya cacat atau penyimpanan



BAB V
PEMBAHASAN

Buah adalah bagian tanaman hasil perkawinan putik dan benangsari. Pada umumnya bagian tanaman ini merupakan tempat biji. Buah-buahan mempunyai sifat fisik yang berbeda, perbedaan tingkat kematangan juga menyebabkan perbedaan sifat fisik. Sifat fisik buah dan sayur yang sering diamati meliputi parameter antara lain : warna,aroma, rasa, bentuk, ukuran, dan kekerasan, umumnya diamati secara subyektif.
Pada praktikum yang kami lakukan, kami mengamati sifat fisik, sifat kimia, dan sifat pada organoleptik pada beberapa jenis buah-buahan. Dari hasil pengamatan yang kami lakukan, kami mengetahui bahwa semua buah memiliki sifat yang berbeda-beda.
Pengamatan pada buah pertama yaitu pada pisang masak dan pisang mentah. Sifat fisik pisang masak dan mentah berbeda, pada pisang mentah, tekstur nya lebih keras dibandingkan pisang yang masak, namun memiliki ph yang sama yaitu 5. Pada sifat organoleptiknya, pisang mentah berasa sepat, tidak beraroma dan berwarna putih pucat, sedangkan pada pisang masak rasanya manis, beraroma harum manis dan berwarna putih kekuningan.
Selanjutnya pengamatan pada buah pepaya mentah dan masak, sifat fisik pepaya mentah memiliki bentuk bulat lonjong dengan tekstur keras pada seluruh bagiannya, pada pepaya masak, bentuknya sama lonjong dan tekstur yang lunak pada seluruh bagiannya. Untuk sifat kimia nya, ph pada pepaya mentah adalah 5, sedangkan pada pepaya masak ph nya juga 5. Pada sifat organoleptik pepaya mentah rasanya sedikit manis dengan aroma pepaya dan berwarna agak orange, sedangkan pada pepaya masak, rasanya manis, dan aroma pepaya sangat tercium dan berwarna orange.
Pengamatan selanjutnya yaitu pada wortel, sifat fisik yang dimiliki wortel yaitu bentuk bulat memanjang dengan ujung lebih kecil daripada pangkalnya, dan tekstur yang keras. Wortel mengandung ph 6, dan kadar airnya 20 %. Pada sifat organoleptiknya wortel memiliki rasa khas wortel beraroma wortel dan berwarna orange. Dari berat keseluruhan wortel 150,91 gram, berat bagian yang bisa dimakan seberat 120,76 gram, dan BDM nya 30,65 gram.
Touge, sifat fisik pada touge yang kami amati berbentuk panjang dan ada kecambah dibagian kepalanya, serta tekstur yang keras. Pada sifat kimianya touge  memiliki ph 6, dan kadar air 8,97 %. Untuk sifat organoleptiknya touge berasa manis, beraroma khas touge, dan untuk warnanya, bagian kepala berwarna hijau, batang berwarna putih dan akar nya berwarna cokelat. Dari berat keseluruhan 450 gram, berat bagian yang bisa dimakan adalah 175 gram.
Terakhir yaitu pengamatan pada tomat masak dan tomat mentah, sifat fisik pada tomat mentah memiliki bentuk bulat dan tekstur yang keras, sedangkan pada tomat masak teksturnya lunak pada seluruh bagiannya. Untuk sifat kimianya ph pada tomat mentah adalah 4, dan pada tomat masak ph nya 5. Untuk sifat organoleptiknya tomat mentah memiliki rasa asam dan berwarna hijau. Sedangkan untuk tomat masak rasanya manis dan berwarna hijau. Dari berat keseluruhan tomat mentah 51,53 gram, berat bagian yang bisa dimakan yaitu 50,04 gram. Untuk tomat masak berat keseluruhannya 77,93 gram dan bagian yang bisa dimakan seberat 76,15 gram.






BAB VI
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
1.      Pengamatan sifat fisik buah dan sayur dilakukan dengan  melihat bentuk, ukuran, warna, tekstur, dan berat.
2.      Sifat fisiologi buah diamati dengan melakukan pengamatan terhadap struktur bbuah dan sayur itu sendiri.
3.      Kaitan hubungan antara sifat fisik, kimia, fisiologi dan organoleptik buah dan sayuran adalah pada tingakat kematangan buah dan sayur maka akan mengalami perunbahan berat, warna, struktur, rasa, aroma, bentuk, tekstur serta bagian yang dapat dimakan.

5.2 Saran
            Disaat praktikum sebaiknya kebersihan laboratorium dalam keadaan bersih, agar praktikum berjalan lancar dan tidak ada gangguan.



DAFTAR PUSTAKA

Buckle, K.A., R.A. Edwards, G.H. Fleet, dan M. Wootton. 1987. Ilmu Pangan. Jakarta : UI-Press.
Fitriani, Dini. Laporan Praktikum 1 – karakteristik Fisik.. 2011.(online)
Kristian, 2003. Komoditi Ekspor Pertanian Tanaman Perkebunan. Jakarta: Penebar Swadaya.
Muchtadi, Tien R dan Sugiyono. 1992. Ilmu Pengetahuan Bahan Pangan. Institut             Pertanian Bogor : Bogor.
Philip, 2004.  Ilmu Pengetahuan Bahan Pangan. Bogor:  IPB.
Praptiningsih, Y. 1999. Teknologi Pengolahan. Jember: Proyek DUE UNEJ.
Syamsir. 2007. Penelitian Sifat Fisiologis Bahan Pangan. Jakarta: Pustaka Jaya
Syarief, rizal dan I. Aniez. 1988. Pengetahuan Bahan Untuk Industri Pertanian.     Mediyatama Sarana Perkasa:Jakarta.
Winarno, F.G.. 2004. Kimia Pangan Dan Gizi. PT Gramedia Pustaka          Utama :           Jakarta.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar