BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Telur
merupakan alat dan cara berkembangbiak bagi unggas dan sebagian hewan. Telur
secara alami telah disiapkan oleh induknya untuk menunjang kehidupan dan
perkembangan embrio dengan sempurna. Kandungan gizi telur nyaris sempurna,
sebab merupakan persediaan pangan selama embrio mengalami perkembangan di dalam
telur, tanpa makanan tambahan dari luar. Telur adalah sumber protein bermutu
tinggi, kaya akan vitamin, dan mineral. Protein telur nyaris sempurna, karena
mengandung semua jenis asam amino esensial dalam jumlah cukup seimbang. Asam
amino esensial dalam jumlah cukup seimbang. Asam amino esensial sangat
dibutuhkan oleh manusia, karena tidak dapat dibentuk sendiri oleh tubuh,
sehingga harus dipenuhi dari makanan ( Aspandi, 1997 ).
Telur
mengandung protein lebih dari 10%, bahkan telur ayam mengandung protein 12,8%
dan bebek 13,1%. Di dalam telur juga terdapat aneka vitamin seperti vitamin A,
B, D, E, dan K. Di samping itu, telur juga mengandung sejumlah mineral seperti
zat besi, fosfor, kalsium, sodium, dan magnesium dalam jumlah yang cukup. Oleh
karena itu, telur sangat baik dikonsumsi oleh anak balita. Anak balita setiap
hari memerlukan lebih kurang 15 gram protein hewani. Kebutuhan tersebut bisa
terpenuhi bila anak balita mengonsumsi 2 butir telur ayam perhari ( Haryoto,
1998 ).
1.2
Tujuan Praktikum
·
Mahasiswa dapat
mengetahi sifat telur dengan melakukan pengamatan terhadap : bentuk, ukuran,
warna, berat, ketebalan cangkang, berat jenis, dan pemeriksaan isi telur secara
subjektif dan objektif
·
Mahasiswa
diharapkan dapat memperoleh gambaran yang jelas mengenai sifat telur, sehingga
dapat mengetahui cara yang tepat dalam mempertahankan mutu dan kualitas telur.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Telur adalah salah satu bahan
makanan asal ternak yang bernilai gizi tinggi karena mengandung zat-zat makanan
yang sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia seperti protein dengan asam amino
yang lengkap, lemak, vitamin, mineral, serta memiliki daya cerna yang tinggi. Telur merupakan bahan makanan yang bernilai gizi tinggi. Hal ini ditandai
dengan rendahnya zat yang tidak dapat diserap setelah telur dikonsumsi. Akan tetapi disamping bernilai gizi tinggi, telur juga mempunyai
sifat yang kualitasnya mudah rusak .Oleh sebab itu perlu dilakukan suatu
tindakan atau usaha-usaha bidang teknologi kualitas dan penanganan pasca
produksi telur . Tindakan ini penting agar produksi telur yang dicapai
dengan segala usaha ini dapat sampai ke konsumen dengan kualitas yang masih tetap
baik ( Sulistiati, 2003 ) .
Penurunan
kualitas telur antara lain disebabkan masuknya mikroba-mikroba perusak ke dalam
isi telur melalui pori-pori kerabang telur, menguapnya air dan gas karena
pengaruh suhu lingkungan. Ruang penyimpan yang mlembab akan menyebabkan
kerabang berjamur ( Steward, 1999 ).
Kuning
telur merupakan bagian telur terpenting, karena didalamnya terdapat bahan
makanan untuk perkembangan embrio . Telur yang segar kuning telumya terletak
ditengah-tengah, bentuknya hula dan warnanya kuning sampai jingga Beberapa pendapat
mengatakan bahwa makanan berpengamh langsung terhadap warm kumng telur
(mengandung pigmen kuning). Kuning telur memiliki komposisi gizi yang lebih
lengkap dibandingkan puith telur, yang terdiri dari air, protein, lemak
karbohidrat, vitamin dan mineral ( Sarwono, 2001 ).
Putih
telur terdiri 40% berupa bahan pada yang terdiri dan empat lapisan yaitu :
lapisan putih telur tipis, lapisan tebal, lapisan tipis bagian dalam clan
lapisan "Chalaziferous". Kekentalan putih telur yang semakin tinggi
dapat ditandai dengan tingginya putih telur kental Hal ini menunjukkan bawa
telur kondisinya masih segar, karena putih telur banyak mengandung air, maka
bagian ini lebih mudah cepat rusak ( Sirait, 2001 ).
Kerabang
telur merupakan bagian terluar yang membungkus isi telur dan berfungsi
mengurangi kerusakan fisik maupun biologis, serta dilengkapi dengan poripori
kulit yang berguna untuk pertukaran gas dan dalam dan luar kulit telur, tebal
kerabang telur berkisar antara 0,33 - 0,35 mm. Tipisnya kulit telur dipengaruhi
beberapa faktor yakni : umur type ayam, zat-zat makanan, peristiwa faal dari
organ tubuh, stress dan komponen lapisan kulit telur. Kulit yang tipis relatif
berpori lebih banyak dan besar, sehingga mempercepat turunnya kualitas telur
akibat penguapan dan pembusukan lebih cepat ( Sumarni, 2004 ).
Tanda-tanda kerusakan yang sering terjadi pada telur adalah :
·
Perubahan fisik, yaitu penurunan berat, pembesaran
kantung udara di dalam telur, pengenceran putih dan kuning telur.
·
Timbulnya bau busuk karena pertumbuhan bakteri
pembusuk.
·
Timbulnya bintik-bintik berwarna karena pertumbuhan
bakteri pembentuk warna, yaitu bintik-bintik hijau, hitam, dan merah.
·
Bulukan, disebabkan oleh pertumbuhan kapang perusak
telur.
·
Pencucian telur yang digunakan air tidak menjamin telur
menjadi lebih awet, karena jika air pencuci yang digunakan tidak bersih dan
tercemar oleh bakteri, maka akan mempercepat terjadinya kebusukan pada telur.
Oleh karena itu, dianjurkan untuk mencuci telur yang tercemar oleh kotoran ayam
menggunakan air bersih yang hangat ( Vet, 2013 ).
BAB III
METODOLOGI
3.1 Alat dan Bahan
Alat Bahan
- Jangka Sorong - Telur
Ayam Ras
- Penggaris -
Telur Ayam Kampung
- Timbangan Analitik -
Telur Puyuh
- Buku Warna - Telur
Itik
- Planimeter
- Alat Candling
- Gelas Piala
- Pisau
- Baskom
3.2 Prosedur Kerja
1. Warna
kulit telur
·
Mengamati pada masing-masing permukaan
telur
·
Memfoto telur utuh dan memberikan
keterangan bagian-bagiannya
·
Mencatata hasil pengamatan yang ada
2. Ukuran
telur utuh
·
Mengukur diameter dan panjang
masing-masing telur utuh dengan menggunakan jangka sorong. Melakukannya
sebanyak 3 kali ulangan, menghitung rata-ratanya
3. Berat
·
Timbang masing-masing telur dengan
menggunakan timbangan analitik.
·
Lakukan sebanyak tiga kali ulangan,
hitunglah rata-ratanya
4. Berat
jenis
·
Isi baskom dnegan air, kemudian masukkan
telur utuh
·
Amati posisi telur (tenggelam atau
mengapung)
5. Ketebalan
cangkang
·
Pecahkan telur dengan hati-hati, seluruh
isinya diletakkan di atas plannimeter
·
Ukur ketebalan menggunakan mikrometer
sekrup
·
Melakukannya sebanyak tiga kali ulangan,
hitung rata-ratanya.
6. Pemeriksaan
mutu telur secara subjektif
·
Mengamati isi telur yang telah dipecahkan
diatas plani meter
·
Foto keseluruhan isi telur
·
Melakukan pengamatan terhadap : kebersihan
kuning telur, kejernihan putih telur, warna, dan ketegaran putih dan kuning
7. Pemeriksaan
mutu telur secara objektif
·
Mengukur tinggi dan diameter kuning telur
serta tingggi dan diameter putih telur, tebal dengan menggunakan jangka sorong
·
Hitunglah
:
keterangan:
H : tinggi putih telur tebal (mm)
W
: berat telur utuh (gram)
G : 32
BAB V
PEMBAHASAN
Telur adalah produk
peternakan yang mengandung nilai asam amino esensial yang dibutuhkan tubuh
manusia. Bahan yang kami amati adalah telur ayam ras, telur ayam kampung, telur
bebek, telur itik dan telur puyuh. Pengamatan yang kami amati dari telur
tersebut adalah pengamatan parameter mutu telur yang mencakup warna, berat
telur utuh, berat jenis, tebal dan berat cangkang, diameter kuning telur dan
putih telur, serta tinggi putih dan kuning telur. Selaiin itu kami juga
mengamati mutu telur, dengan pengamatan pemeriksaan secara subjektif dan
objektif.
Pengamatan pertama pada
telur ayam ras, bentuk telur ayam ras bulat lonjong, dan warna kulit coklat
muda, berat utuh telur 64,6 gram dengan tebal cangkang 0,025 cm. Pada diameter
kuning telur 4,5 cm, diamter putihnya 9 cm, sedangkan tinggi kuning telurnya
1,1 cm dan putih telurnya 0,5 cm. Untuk pemeriksaan secara subjektif, keadaan
kulit bersih, kuning telurnya jernih dan aromanya telur segar. Untuk indeks
kuning telur didapatkan hasil 0,24, nilai Z 0,56 dan indeks putih telurnya
0,05.
Selanjutnya pengamatan
pada telur ayam kampung, telur ayam kampung berbentuk bulat lonjong, warna
kulit putih, kuning telurnya jernih. Berat utuh telur ayam kampung 39,85 gram,
dengan tebal cangkang 0,75 mm. Diameter kuning telurnya 4,1 cm, diameter putih
telurnya 5,2 cm. Dan untuk tinggi kuning telurnya 1,2 cm, dan putih telurnya
0,5 cm. Keadaan kuning telurnya jernih dan aroma amis, serta indeks kuning
telurnya 0,29 dan nilai Z 1,003, indeks putih telurnya 0,09.
Pengamatan pada telur
bebek, telur bebek memiliki bentuk bulat lonjong dengan berat 69,45 gram.
Ketebalan cangkangnya 0,12 mm. Diameter kuning telurnya 4,34 cm, putihnya 7,12
cm. Untuk tinggi kuning telurnya 1,3 cm dan putihnya 0,2 cm. Keadaan kulit
kotor, kuning telur pucat, dan aroma manis. Indeks kuning telurnya 0,29. Nilai
Z nya 0,0624 dan indeks putih telurnya 0,02.
Selanjutnya pengamatan
pada telur puyuh, bentuk telur oval
dengan warna bintik-bintik hitam pada kulitnya. Berat utuhnya 11,27 gram,
dengan tebal cangkang 0,12 mm. Diameter kuningnya 3,525 cm, dan putihnya 5,1
cm. Untuk kuning telur berwarna pucat, dan aromanya amis. Indeks kuning
telurnya 0,123 dan indeks putih telurnya 0,039
BAB VI
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
1. Sifat
telur dapat diketahui dengan mengamati bentuk, warna, berat, ketebalan
cangkang, berat jenis, dan memeriksa isi telur secara objektif dan subjektif.
2. Untuk
memepertahankan mutu telur dan kualitas telur maka harus mengetahui penanganan
yang tepat untuk pengolahannya
6.2 Saran
Pada
saat praktikum sebaiknya praktikan melakukan praktikum dengan benar, dan
penerangan pada ruangan sebaiknya diperbaiki agar praktikum dapat dilakukan
dengan nyaman.
DAFTAR PUSTAKA
Apandi, Muchidin. 1997. Teknologi Telur. Penerbit
Universitas Bandung Raya : Bandung.
Haryoto. 1998. Pengawetan
Telur Segar. Penerbit Kanisus : Yogyakarta
Sarwono. B., B.A. Murtidjo dan A . Daryanto. 2001. Telur Pengawetan dan Manfaatnya.
Jakarta: Penebar Swadaya.
Sirait, Celly. H. 2001. Telur dan Pengolahannya. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan
Peternakan.
Steward, G .F. and J .C. Abbott. 1999. Marketing Eggs and Poultry. Third
Printing . Food and Agricultural Organization (FAO), The United Nation. Rome.
Sulistiati. 2003. Pengaruh
Berbagai Macam Pengawet dan Lama Penyimpanan terhadap Kualitas Telur Konsumsi.
Bogor: Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor .
Sumarni. 2004. Diktat
Penanganan Pasca Panen Unggas. Bogor: Departemen Pertanian. Balai Latihan
Pertanian, ternak, Ciawi Bogor.
Vet. 2013. Perbedaan Warna Telur. Bogor. Ilmu Pangan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar