Selasa, 24 Mei 2016

Laporan PBA-Pengetahuan Bahan Kelompok Umbi-umbian

ACARA III
PENGETAHUAN BAHAN KELOMPOK UMBI-UMBIAN


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Umbi-umbian merupakan bahan nabati yang bisa diperoleh dari tanah. Umbi bisa dikatakan merupakan satu organ dari tumbuhan yang merupakan modifikasi dari organ lain dan berfungsi sebagai penyimpan zat tertentu seperti karbohidrat yang berfungsi sebagai cadangan energi. Umbi-umbian penting sebagai karbohidrat terutama sebagai sumber pati.Selain itu umbi-umbian dapat dikeringkan dan dibuat tepung. Salah satu kandungan kimia lain dalam umbi-umbian adalah karotenoidnya yang berpengaruh pula pada sifat fisiknya dengan adanya warna alami pada umbi tersebut ( Tarwotjo, 1998 )
Ubi jalar termasuk famili convolvulaceae dan merupakan tanaman palawija. Bentuk daunnya sangat bervariasi dari bentuk lonjong sampai bentuk seperti jari, dengan lekukan tepi yang banyak dan dalam. Bentuk ubi jalar biasanya bulat sampai lonjong dengan permukaan rata sampai tidak rata. Bentuk ubi yang ideal adalah lonjongn agak panjang dengan berat antara 200-250 gram per ubi. Ubi jalar dapat berwarna putih, kuning, orange, sampai merah bahkan ada yang berwarna kebiruan, violet atau berbintik-bintik biru. Ubi yang berwarna kuning, orange sampai merah banyak mengandung karotenoid yang merupakan precursor bagi vitamin A. Ubi jalar ini mengandung protein kadar rendah tetapi kualitas protein cukup baik dengan protein score 81. Timbunan kalori dalam ubi jalar berbentuk karbohidrat (Sarwono, 2005).

1.2  Tujuan Praktikum
·         Mahasiswa dapat mengetahui sifat umbi-umbian dengan melakukan pengamatan terhadap sifat umbi-umbian, meliputi : bentuk, ukuran, berat, warna, pencoklatan, dan kadar air.
·         Mahasiswa diharapkan dapat memperoleh gambaran yang jelas mengenai sifat umbi-umbian, sehingga dapat melakukan pengolahan lanjutan, untuk pembuatan berbagai produk pangan.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Umbi adalah organ tumbuhan yang mengalami perubahan ukuran dan bentuk sebagai akibat perubahan fungsinya. Perubahan ini berakibat pada anatominya. Organ yang membentuk umbi terutama batang, akar, atau modifikasinya. Hanya sedikit kelompok tumbuhan yang membentuk umbi dengan melibatkan daunnya.Umbi biasanya terbentuk tepat di bawah permukaan tanah, meskipun dapat pula terbentuk jauh di dalam maupun di atas permukaan ( Parker, 2003 ).
Organ umbi yang dimodifikasi biasnya berupa daun, batang, atau akar. Bentuk modifikasi  ini biasanya adalah pembesaran ukuran dengan perubahan anatomi yang sangat jelas terlihat. Umbi biasanya terbentuk tepat dibawah permukaan tanah. Tumbuhan memerlukan cadangan energi dalam umbi karena ia tidak bisa berpindah untuk menemukan sumber energi baru atau untuk membantu perbanyakkan jenisnya (Syarief, 2008).
Baik struktur maupun sifat masing-masing jenis umbi-umbian berbeda. Umbi akar banyak mengandung karbohidrat (tepung) dan air. Pada umbi akar ini bagian dalam sebenarnya pembuluh xylem yang diselubingi oleh lapisan kambium. Itu sebabnya bagian dalamnya keras meskipun banyak mengandung air. Pada bagian luar umbi, terdapat lapisan gabus, yaitu sel-sel yang mati. Baik kulit luar maupun sel-sel gabus ini berfungsi melindungi bagian dalam umbi. Dinding sel umbi akar, baik yang merupakan xilem, kambium, sklerensim dengan sel-sel gabus banyak mengandung selulosa.Beberapa macam umbi-umbian, yaitu umbi akar, umbi batang dan umbi daun. Umbi akar merupakan bagian akar atau batang yang digunakan sebagai tempat menyimpan makanan cadangan, yang termasuk umbi akar misalnya ubi kayu, sedangkan ubi jalar dan kentang merupakan umbi batang. ( Gsianturi, 2003 )
Talas merupakan tanaman pangan berupa herba menahun. Talas termasuk dalam suku talas-talasan (Araceae), berperawakan tegak, tingginya 1 cm atau lebih dan merupakan tanaman semusim atau sepanjang tahun. Talas mempunyai beberapa nama umum yaitu Taro, Old cocoyam, ‘Dash(e)en’ dan ‘Eddo (e)’. Di beberapa negara dikenal dengan nama lain, seperti: Abalong  (Philipina),  Taioba  (Brazil),  Arvi (India),  Keladi (Malaya), Satoimo (Japan), Tayoba (Spanyol) dan Yu-tao (China).Asal mula tanaman ini berasal dari daerah Asia Tenggara, menyebar ke China dalam abad pertama, ke Jepang, ke daerah Asia Tenggara lainnya dan ke beberapa pulau di Samudra Pasifik, terbawa oleh migrasi penduduk. Di Indonesia talas bisa di jumpai hampir di seluruh kepulauan dan tersebar dari tepi pantai sampai pegunungan di atas 1000 m dpl., baik liar maupun di tanam. Talas memiliki suatu senyawa yang dapat menyebabkan gatal bagi yang mengkonsumsinya, senyawa yang menyebabkan gatal tersebut dikenal dengan nama oksalat. Oksalat dapat ditemukan pada berbagai macam tanaman hijau dan jenis umbi – umbian lainnya. Rasa gatal yang ditimbulkan dari oksalat pada umbi mengakibatkan terbatasnya penggunaan talas sebagai bahan baku alternatif dalam memenuhi kebutuhan bahan pangan. Oksalat pada talas secara sederhana dapat dihilangkan dengan melakukan proses pemanasan, namun pada proses pelakasanannya dibutuhkan waktu yang optimal dan terbaik untuk menekan biaya produksi yang dikeluarkan. penentuan suhu yang tepat juga dimaksudkan untuk mencegah gelatinisasi pada talas yang dapat terbentuk jika dilakukan proses pemanasan ( Muchtadi, 2004 ).
            Di Indonesia, ubi kayu (Manihot esculenta) merupakan makanan pokok ke tiga setelah padi dan jagung. Sedangkan untuk konsumsi penduduk dunia, khususnya penduduk negara-negara tropis, tiap tahun diproduksi sekitar 300 juta ton ubi kayu. Produksi ubikayu di Indonesia sebagian besar dihasilkan di Jawa (56,6%), Propinsi Lampung (20,5%) dan propinsi lain di Indonesia (22,9%). Permasalahan umum pada pertanaman ubikayu adalah produktivitas dan pendapatan yang rendah. Rendahnya produktivitas disebabkan oleh belum diterapkannya teknologi budidaya ubikayu dengan benar baik pemupukan baik pupuk an-organik maupun organik (pupuk kandang).        Singkong banyak mengandung glukosa dan dapat dimakan mentah. Rasanya sedikit manis, ada pula yang pahit tergantung pada kandungan racun glukosida yang dapat membentuk asam sianida. Umbi yang rasanya manis menghasilkan paling sedikit 20 mg HCN per kilogram umbi akar yang masih segar, dan 50 kali lebih banyak pada umbi yang rasanya pahit. Pada jenis singkong yang manis, proses pemasakan sangat diperlukan untuk menurunkan kadar racunnya. Dari umbi ini dapat pula dibuat tepung tapioka ( Soediaoetama, 2003 ).
            Ubi jalar termasuk famili convolvulaceae dan merupakan tanaman palawija. Bentuk daunnya sangat bervariasi dari bentuk lonjong sampai bentuk seperti jari, dengan lekukan tepi yang banyak dan dalam. Bentuk ubi jalar biasanya bulat sampai lonjong dengan permukaan rata sampai tidak rata. Bentuk ubi yang ideal adalah lonjongn agak panjang dengan berat antara 200-250 gram per ubi. Ubi jalar dapat berwarna putih, kuning, orange, sampai merah bahkan ada yang berwarna kebiruan, violet atau berbintik-bintik biru. Ubi yang berwarna kuning, orange sampai merah banyak mengandung karotenoid yang merupakan precursor bagi vitamin A. Ubi jalar ini mengandung protein kadar rendah tetapi kualitas protein cukup baik dengan protein score 81. Timbunan kalori dalam ubi jalar berbentuk karbohidrat. ( Rukmana, 2008 ).
            Ubi jalar merupakan jenis yang banyak dibudidayakan dan diolah menjadi berbagai jenis bahan olahan karena mengandung antosionin yang tinggi dan sebagai bahan pangan sumber kalori, contohnya: es krim, campuran selai buah, kue kering, kripik dan lain sebagainya, banyak dibudidayakan di kabupaten malang. ubi jalar jingga merupakan sumber vitamin C dan β-karoten (provitamin A) yang sangat baik, kandungan β-karotennya lebih tinggi dibandingkan ubi jalar lainnya, dan juga mengandung vitamin B yang sedang(tengah-tengah).( Syamsir. 2007 ).




BAB III
METODOLOGI

3.1 Alat dan Bahan
Alat                                                                             Bahan
- Pisau                                                                         - Ubi Jalar
- Jangka Sorong                                                          - Ubi Kayu
- Penggaris 30 cm                                                       - Gadung
- Timbangan                                                                - Talas
- Stopwatch                                                                 - Aquades
- Ember/Baskom
- Parutan
- Oven
- Nampan
- Ayakan
- Aluminium Foil

3.2 Prosedur Kerja
1.      Bentuk
·         Menggunakan indra penglihatan untuk melihat bentuk bahan, serta membandingkan bentuk acuan yang tersedia.
·         Memfoto bentuk bahan utuh dari yang tersedia
·         Membandingkan bahan yang diamati dengan literatur
2.      Ukuran
·         Mengukur panjang, lebar, dan tinggi/ tebal masing-masing bahan dengan menggunakan penggaris, jangka sorong dan mikrometer sekrup.
·         Mengulanginya sebanyak tiga kali
3.      Berat
·         Menimbang berat masing-masing bahan yang telah disediakan dengan timbangan biasa dan timbangan analitik
·         Mencatat berat masing-masing bahan
4.      Pencoklatan
·         Iris danging umbi, kemudian biarkan umbi pada udara terbuka
·         Catat pada waktu setelah pengirisan, tepat pada terjadi perubahan warna pada daging umbi
5.      Ekstrasi pati
·         Mengupas umbi, kemudian cuci 1 kali dengan air bersih
·         Merendam umbi dalam larutan garam 3% selama 1 jam. Kemudian cuci dersih dengan air (1 kali)
·         Perut umbi yang telah dicuci, kemudian timbang hasil yang diperoleh
·         Tambahkan air bersih sebanyak 9 kali dari berat parutan umbi
·         Kemudian peras campuran dengan menggunakan kain saring, sehingga di peroleh filtratnya
·         Membiarkan filtratnya mengendap, sampai supernatnya jernih. Kemudian buang supernatnya. Timbang endapan yang dihasilkan.
·         Cucu endapan yang diperoleh dengan menambahkan air sebanyak 9 kali dari berat endapan, kemudian biarkan supernatnya jernih, lalu buang. Lakukan proses ini sebanyak 3 kali
·         Endapan terakhir yang diperoleh kemudian di jemur hingga kering
·         Menghintung kadar air dengan menggunakan rumus:
·         Setelah kering, lalu menghaluskan pati yang diperoleh kemudian disaring
·         Mengamati warna tepung pati pada masing-masing umbi.




BAB V
PEMBAHASAN

Umbi-umbian merupakan bahan nabati yang bisa diperoleh dari tanah. Umbi bisa dikatakan merupakan satu organ dari tumbuhan yang merupakan modifikasi dari organ lain dan berfungsi sebagai penyimpan zat tertentu seperti karbohidrat yang berfungsi sebagai cadangan energi. Umbi-umbian penting sebagai karbohidrat terutama sebagai sumber pati.Selain itu umbi-umbian dapat dikeringkan dan dibuat tepung. Salah satu kandungan kimia lain dalam umbi-umbian adalah karotenoidnya yang berpengaruh pula pada sifat fisiknya dengan adanya warna alami pada umbi tersebut ( Tarwotjo, 1998 ).
            Praktikum kami kali ini kami mengamati tentang bentuk, warna, berat, reaksi pencoklatan dan ektraksi pati pada beberapa jenis umbi-umbian.
            Pengamatan pertama yaitu pada kentang, kentang yang kami amati berbentuk bulat, serta memiliki berat 1190 gram. Pengamatan pada ukuran, kentang memiliki panjang 57 mm, lebarnya 52,5 mm, dan tebal 49,5 mm. Warna pada kulit umbi yaitu cokelat, dan warna dagingnya putih kekuningan. Untuk pencoklatan kami mengamati selama 15 menit, pada 5 menit pertama blum terjadi pencoklatan, pada menit ke 10 terjadi pencoklatan dengan nilai +2, dan pada menit ke 15 menjadi +3. Pengamatan pada ekstraksi pati, hasil parutan yang kami dapatkan sebanyak 900 gram, pada endapan pertama sebanyak 16,34 gram, endapan kedua 13,32 gram, dan endapan ketiga sebanyak 6,76 gram, terakhir pada endapan keempat sebanyak 4,58 gram. Kadar tepung pada kentang sebesar 30,56 %.
            Selanjutnya pengamatan pada ubi kayu, ubi kayu berbentuk bulat panjang, dan erat yang dimiliki 1200 gram. Ukuran pada ubi kayu panjangnya 183 mm, lebar 47,25 mm dan tebalnya 41,1 mm. Untuk warna kulit pada ubi kayu yaitu cokelat, dan warna dagingnya putih. Selanjutnya pencoklatan pada ubi kayu selama 15 menit, pada 5 menit pertama belum terjadi pencoklatan, dan pada menit ke 10 dan 15 terjadi pencoklatan dengan nilai +2. Pada ekstraksi pati hasil parutan yang didapatkan sebanyak 980 gram, pada endapan pertama didapatkan sebanyak 140 gram, endapan kedua sebanyak 80 gram, pada endapan ketiga 60 gram, dan endapan keempat sebanyak 50 gram.
            Selanjutnya pengamatan pada ubi jalar, bentuk pada ubi jalar lonjong dengan berat 1005 gram, untuk ukuran panjang ubi jalar 10,72 cm, lebarnya 7,4 cm, dan tebalnya 5,92 cm. Warna pada kulit putih kekuningan dan warna pada daging putih keunguan. Pada pencoklatan, menit ke 5 sudah terjadi pencoklatan sebesar +1, pada menit ke 10 sebesar +2 dan pada menit ke 15 sebesar +2. Pada ekstraksi pati hasil parutan yang didapatkan sebanyak 800 gram, pada endapan pertama sebanyak 56,50 gram, endapan kedua 45 gram, endapan ketiga 40 gram, dan endapan keempat 30 gram. Dan kadar tepung pada ubi jalar sebesar 20,31 %.
           


BAB VI
PENUTUP

6.1 Kesimpulan
1.      Sifat umbi-umbian dapat diketahui melalalui pengamatan bentuk, ukuran, warna, pencoklatan dan kadar air.
2.      Sifat umbi-umbian yang paling penting diperhatikan pada pengolahan lanjutan adalah pencoklatan dan ektraksi pati sehingga memudahkan dalam proses pengolahan lanjutan

6.2 Saran
            Praktikan harus hati-hati dalam praktikum untuk meminimalisir kecelakaan kerja yang membahayakan, karena alat yang digunakan berupa pisau dapat melukai jika tidak hati-hati menggunakannya
           
           



DAFTAR PUSTAKA

Gsianturi.2003. Memperkuat Keamanan Pangan dengan Umbi-Umbian. Jakarta
Muchtadi, 2004. Ilmu Pengetahuan Bahan Pangan: Pangan Dan Gizi. Bogor:  Institut Pertanian  Bogor.
Parker, R., 2003 Bertanam Umbi-umbian. Jakarta: Penebar Swadaya
Rukmana, 2005. Produksi Palawija Daerah Tropis. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Sarwono, B. 2005.Ubi Jalar. Jakarta: Penebar Swadaya.
Sediaoetama, Achmad Djaeni. 2000. Ilmu Gizi Untuk Mahasiswa dan Profesi Jilid I . Jakarta: Dian Rakyat.
Syamsir. 2007. Penelitian Sifat Fisiologis Bahan Pangan. Jakarta: Pustaka Jaya.
Syarief R. dan A. Irawati, 1988, Pengetahuan Bahan untuk Industri Pertanian.   Jakarta: Mediyatama Sarana Perkasa.
Tarwotjo, Soejoeti.C. 1998. Dasar-Dasar Gizi Kuliner. Penerbit PT. Gramedia Widiasarana Indonesia : Jakarta


Tidak ada komentar:

Posting Komentar